5 Tanda Bisnis Anda Sudah Outgrow Ekspedisi yang Digunakan Sekarang

5 Tanda Bisnis Anda Sudah Outgrow Ekspedisi yang Digunakan Sekarang

0
(0)

Kapan terakhir kali Anda mengevaluasi apakah ekspedisi yang digunakan masih layak untuk bisnis Anda sekarang? Bagi banyak bisnis, jawabannya adalah tidak pernah, sampai ada masalah besar. 

Berikut lima tanda yang seharusnya sudah memicu evaluasi itu jauh lebih awal.

Mengapa Ekspedisi yang Dulu Cukup Kini Tidak Lagi Memadai?

Setiap bisnis melewati tahapan pertumbuhan yang berbeda. 

Di tahap awal, ekspedisi logistik yang digunakan cenderung masih fleksibel dan terjangkau. Volume masih kecil, rute masih terbatas, dan ongkos tidak terlalu membebani finansial perusahaan.

Namun, saat bisnis tumbuh, kebutuhan logistiknya juga berubah. 

Pengiriman menjadi lebih kompleks, ke lebih banyak rute, serta dengan standar yang lebih tinggi dari klien. Selain itu, bisnis sudah mulai membutuhkan data pengiriman yang bisa dijadikan sebagai dasar keputusan.

Sebagian ekspedisi memang tumbuh bersama kliennya. Namun, banyak yang tidak.

Kapasitas armada, jangkauan wilayah, dan teknologi sistem mereka tetap sama, sementara kebutuhan bisnis Anda terus meningkat. Akibatnya, ekspedisi yang tadinya solusi berubah menjadi hambatan.

Biaya Bertahan dengan Ekspedisi yang Tidak Lagi Sesuai Skala

Bertahan dengan ekspedisi yang tidak lagi sesuai skala memunculkan biaya yang terus berjalan, meski tidak selalu muncul di tagihan. 

Biaya itu berbentuk waktu tim yang habis untuk follow-up manual, biaya pengiriman ulang akibat keterlambatan atau kerusakan, kontrak tidak diperpanjang klien, dan peluang ekspansi yang tidak bisa dieksekusi karena jaringan distribusi tidak mendukung.

Biaya-biaya ini bersifat kumulatif. Dalam satu bulan mungkin tidak begitu terasa signifikan. Namun, dalam satu kuartal, totalnya sangat besar.

Tanda #1: Tim Anda Menghabiskan Waktu Lebih dari 5 Jam Seminggu Hanya untuk Follow-Up Pengiriman

Mengapa Ini Tanda Serius, Bukan Sekadar Masalah Administrasi

Jika setiap minggu ada anggota tim yang menghabiskan berjam-jam hanya untuk menghubungi ekspedisi, menanyakan status barang, dan memperbarui informasi ke klien secara manual, itu bukan masalah administrasi biasa. 

Melainkan itu adalah tanda bahwa sistem ekspedisi yang digunakan tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan bisnis Anda.

Ekspedisi sesuai skala bisnis yang sedang tumbuh seharusnya menyediakan pembaruan status otomatis di setiap checkpoint, proof of delivery, dan CS responsif. 

Cara Menghitung Biaya Tersembunyi dari Waktu Tim yang Terpakai

Jika satu orang menghabiskan lima jam per minggu untuk follow-up pengiriman, itu berarti 20 jam per bulan. Kalikan dengan biaya per jam dari gaji atau biaya kesempatan orang tersebut.

Sebagai ilustrasi:

  • 20 jam per bulan × Rp 50.000 per jam = Rp 1.000.000 per bulan per orang.
  • Jika ada dua orang di tim yang melakukan hal yang sama, biayanya menjadi Rp 2.000.000 per bulan.
  • Dalam satu tahun, angkanya mencapai Rp 24.000.000 hanya dari satu jenis aktivitas yang seharusnya tidak perlu dilakukan secara manual.

Tanda #2: Volume Pengiriman Naik tapi Visibilitas Justru Turun

Ketika Ekspedisi Tidak Bisa Lagi Memberikan Update yang Anda Butuhkan

Ada paradoks terjadi pada bisnis yang sedang tumbuh, yakni semakin banyak pengiriman yang dilakukan, maka semakin sedikit informasi yang tersedia tentang masing-masing pengiriman tersebut.

Ini terjadi ketika ekspedisi yang digunakan tidak memiliki sistem tracking yang skalabel. Pada volume kecil, pembaruan status mungkin bisa dikelola manual. Namun, saat volume naik 50 atau 100 persen, sistem yang sama tidak mampu mengikuti.

Tanda ini sangat berbahaya untuk bisnis B2B yang mengirim ke klien korporat. Sebab, klien korporat membutuhkan kepastian, jadwal yang bisa dipegang, dan informasi yang bisa mereka sampaikan ke tim internal mereka.

Tanda #3: Klien atau Mitra Bisnis Mulai Komplain tentang Keterlambatan

Dari Masalah Internal Menjadi Masalah Reputasi: Garis yang Tidak Boleh Dilewati

Keterlambatan pengiriman yang sesekali terjadi masih bisa diterima dalam dunia logistik. Namun, ketika keterlambatan berulang kali dan klien sudah mulai komplain, itu bukan lagi masalah operasional yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf.

Klien yang komplain masih lebih baik dari klien yang tidak komplain. Sebab, berdasarkan pola di berbagai industri, lebih dari 60 persen klien B2B yang akhirnya berpindah ke kompetitor tidak pernah menyampaikan keluhan formal sebelumnya. Mereka cukup pergi.

Keterlambatan pengiriman yang berulang sudah memengaruhi cara klien melihat profesionalisme dan keandalan bisnis Anda. Reputasi yang terbentuk dari pengalaman buruk pengiriman sangat sulit diperbaiki, bahkan setelah ekspedisinya sudah diganti.

Oleh karena itu, begitu pola komplain tentang keterlambatan mulai muncul dari lebih dari satu klien, segera mulai evaluasi penggantian ekspedisi Anda.

Tanda #4: Ekspedisi Tidak Bisa Melayani Rute Baru yang Bisnis Anda Butuhkan

Ketika Keterbatasan Jaringan Ekspedisi Menghambat Ekspansi Bisnis

Salah satu momen frustrasi dalam pertumbuhan bisnis adalah ketika rencana ekspansi sudah matang tetapi terhalang oleh ekspedisi yang bisa tidak menjangkau wilayah tujuan.

Hal ini sering terjadi pada bisnis yang sedang bergerak dari distribusi lokal ke antar pulau, atau dari Jawa ke wilayah Indonesia timur. 

Ekspedisi yang cukup baik untuk rute-rute padat di Jawa sering kali memiliki keterbatasan jaringan begitu tujuan bergeser ke Kalimantan, Sulawesi, atau Papua.

Konsekuensinya adalah bisnis harus menggunakan lebih dari satu ekspedisi untuk rute yang berbeda, koordinasi menjadi lebih kompleks, data terpencar di berbagai sistem, dan tidak ada vendor tunggal yang bisa diminta pertanggungjawaban untuk keseluruhan kinerja distribusi.

Selain itu, keterbatasan jaringan ekspedisi juga berdampak pada kecepatan pengambilan keputusan ekspansi. 

Ketika setiap rute baru membutuhkan vendor baru yang harus diseleksi, diverifikasi, dan dinegosiasikan dari nol, momentum ekspansi bisnis sering kehilangan tenaganya di tengah jalan. 

Karena itu, untuk bisnis yang sedang mempersiapkan ekspansi ke luar Jawa, memilih ekspedisi dengan jaringan yang memadai adalah bagian dari langkah konkret menyiapkan logistik saat bisnis masuk fase ekspansi yang tidak bisa diabaikan. 

Tanda #5: Tidak Ada Data Pengiriman yang Bisa Diandalkan untuk Laporan Manajemen

Gudang logistik dengan truk pengiriman, tumpukan paket, dan dokumen evaluasi distribusi.

Bisnis yang Tumbuh Butuh Visibilitas, Bukan Hanya Layanan

Pada tahap awal, wajar kalau bisnis tidak terlalu memperhatikan data logistiknya. Namun, saat skala bisnis bertumbuh dan biaya logistik mulai menjadi komponen signifikan, tidak memiliki data yang andal bisa menimbulkan risiko serius.

Pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab cepat dengan hitungan data akurat, di antaranya berapa OTD rata-rata ekspedisi kita bulan lalu, rute mana yang sering terlambat, berapa biaya logistik aktual dibandingkan anggaran, atau berapa nilai klaim kerusakan dalam satu kuartal.

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu harus dikumpulkan manual dari WhatsApp, spreadsheet terpencar, atau bahkan tidak bisa dijawab sama sekali, sebaiknya segera evaluasi ekspedisi yang digunakan. 

Sebab, ekspedisi yang tidak bisa menyediakan data terstruktur berarti mereka tidak memiliki sistem cukup matang untuk mendukung pertumbuhan bisnis.

Apa yang Harus Dilakukan Setelah Mengenali Tanda-Tanda Ini?

Langkah Pertama yang Realistis untuk Memulai Transisi

Mengenali tanda-tanda di atas bukan berarti harus langsung mengganti ekspedisi. Transisi yang terburu-buru justru sering menimbulkan gangguan operasional. 

Berikut urutan langkah untuk memulai transisi ke ekspedisi baru:

  1. Dokumentasikan masalah yang ada. Kumpulkan data OTD tiga bulan terakhir, catat berapa jam tim menghabiskan waktu untuk follow-up, dan inventarisir rute mana yang tidak bisa dilayani. Data ini akan menjadi dasar evaluasi yang kuat.
  2. Tetapkan kriteria ekspedisi sesuai skala bisnis saat ini. Kriteria ini mencakup jangkauan wilayah yang dibutuhkan, standar OTD minimum, kapabilitas sistem tracking, dan mampu menyediakan data laporan yang terstruktur.
  3. Mulai proses seleksi vendor baru. Jangan hentikan ekspedisi lama sampai vendor baru sudah terbukti melalui uji coba di satu atau dua rute terlebih dahulu.
  4. Lakukan transisi bertahap berdasarkan rute, bukan semua sekaligus. Mulai dari rute yang tidak kritis, evaluasi kinerjanya selama 30 hingga 60 hari, lalu perluas ke rute setelah vendor baru terbukti andal.

Lima tanda di atas bersifat strategis dan bisa dirasakan di level manajemen. Sementara untuk gambaran yang lebih lengkap, ada pula tanda lebih operasional yang melengkapi 5 tanda strategis ini yang bisa langsung diperiksa di lapangan berdasarkan indikator kinerja spesifik. 

Saat Anda sudah yakin bahwa transisi diperlukan, layanan pengiriman barang Mitralogistics menyediakan konsultasi gratis untuk membantu Anda mengevaluasi kebutuhan logistik saat ini dan menemukan solusi yang sesuai dengan skala bisnis yang sedang tumbuh. 

FAQ

Apa tanda-tanda bahwa bisnis sudah membutuhkan ekspedisi yang lebih baik?

Ada lima tanda utama yang perlu diperhatikan, yaitu:

  1. Tim menghabiskan terlalu banyak waktu untuk follow-up pengiriman secara manual. 
  2. Visibilitas pengiriman justru menurun saat volume naik. 
  3. Klien atau mitra mulai menyebutkan keterlambatan secara langsung. 
  4. Ekspedisi tidak bisa melayani rute baru yang dibutuhkan untuk ekspansi. 
  5. Tidak ada data pengiriman yang andal untuk keperluan laporan manajemen.

Jika tiga atau lebih tanda ini sudah terasa familiar, maka disarankan untuk segera mulai evaluasi.

Kapan bisnis sebaiknya mulai mencari ekspedisi yang lebih sesuai dengan skalanya?

Jawabannya adalah sebelum krisis terjadi, bukan sesudahnya. 

Proses transisi vendor logistik membutuhkan waktu minimal dua hingga tiga bulan jika dilakukan dengan benar, sehingga memulainya saat bisnis masih stabil jauh lebih aman. 

Tanda awal untuk mulai mencari ekspedisi baru adalah ketika volume pengiriman naik, tetapi kualitas layanan ekspedisi tidak ikut meningkat.

Apa risiko terus menggunakan ekspedisi yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan bisnis?

Ada tiga risiko yang perlu diperhatikan, yaitu: 

  1. Produktivitas tim terkikis karena terlalu banyak waktu habis untuk follow-up pengiriman. 
  2. Keterlambatan yang berulang merusak reputasi bisnis hingga klien beralih tanpa pernah memberi tahu alasannya. 
  3. Keterbatasan jaringan ekspedisi menghambat ekspansi ke pasar baru yang sebenarnya sudah bisa dijangkau.

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote 0

Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.