Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia menghadapi tantangan logistik yang kompleks. Dari Sabang sampai Merauke, mengalirkan barang dengan efisien bukanlah perkara mudah.
Daftar Isi
Masalah logistik yang tidak tertangani dengan baik akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan harga barang di berbagai daerah menjadi tidak merata. Lalu, bagaimana mengatasinya?
Apa yang Dimaksud dengan Masalah Logistik?
Masalah logistik adalah berbagai kendala atau hambatan yang muncul dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian aliran barang dari titik asal ke tujuan akhir.
Masalah ini bisa terjadi di berbagai tahap, mulai dari pengadaan, penyimpanan, transportasi, hingga distribusi ke konsumen.
Apa Saja Faktor Permasalahan Logistik yang Ada di Indonesia?
1. Infrastruktur yang Belum Merata
Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan tingkat pembangunan infrastruktur yang sangat timpang.
Jalan-jalan di kota besar relatif baik, tetapi kondisi berbeda drastis di wilayah timur Indonesia atau daerah pedalaman. Banyak jalan masih berlubang, jembatan yang rapuh, bahkan akses jalan yang sama sekali belum tersedia.
Pelabuhan di Indonesia juga belum merata kualitasnya. Pelabuhan besar, Tanjung Priok misalnya, sudah cukup memadai. Namun, banyak pelabuhan kecil di daerah yang fasilitasnya minim.
Akhirnya, waktu tempuh pengiriman menjadi lebih lama. Truk yang melewati jalan rusak berisiko mengalami kerusakan dan membutuhkan biaya perawatan tinggi. Biaya ekstra ini akhirnya dibebankan ke harga produksi sehingga konsumen di daerah terpencil harus membayar lebih mahal untuk barang yang sama.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu terus mempercepat pembangunan infrastruktur transportasi. Perusahaan logistik bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memetakan rute alternatif yang lebih efisien.
Penggunaan moda transportasi alternatif, seperti kapal perintis atau pesawat kargo untuk wilayah yang sulit dijangkau juga perlu diperbanyak.
2. Biaya Logistik yang Tinggi
Biaya logistik di Indonesia mencapai 23-24% dari PDB, jauh lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Thailand (13%), Malaysia (13%), atau Singapura (8%). Ini membuat produk Indonesia kurang kompetitif baik di pasar domestik maupun internasional.
Tingginya biaya logistik disebabkan berbagai faktor, antara lain jarak tempuh yang jauh karena geografis kepulauan, biaya bahan bakar yang tidak stabil, biaya mahal untuk bongkar muat di pelabuhan, hingga pungutan tidak resmi di berbagai titik.
Dampaknya, harga produk lebih mahal, terutama untuk barang-barang yang harus dikirim ke luar Jawa. Disparitas harga antara daerah semakin lebar, contoh semen yang di Jawa dijual Rp60.000 bisa mencapai Rp150.000 di Papua. Daya beli masyarakat menurun dan pertumbuhan ekonomi terhambat.
Solusinya adalah melakukan konsolidasi pengiriman, yaitu menggabungkan berbagai kiriman dalam satu armada untuk mengisi kapasitas penuh dan membagi biaya.
Perusahaan logistik perlu mengadopsi sistem hub and spoke untuk efisiensi distribusi. Pemerintah juga harus memberantas pungli dan menyederhanakan regulasi agar tidak menambah biaya-biaya tersembunyi.
3. Masalah Dwelling Time di Pelabuhan
Proses perizinan dan kepabeanan di Indonesia masih dianggap berbelit dan memakan waktu lama. Untuk impor atau ekspor barang, pelaku usaha harus mengurus berbagai dokumen dari berbagai instansi yang prosesnya tidak terintegrasi. Satu perizinan bisa memakan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu.
Tumpang tindih kewenangan antar instansi (Kementerian, Bea Cukai, Karantina, dll) membuat koordinasi sulit dan prosesnya jadi panjang. Biaya siluman atau pungutan tidak resmi di beberapa titik juga masih menjadi masalah.
Dampaknya, dwelling time (waktu tunggu) di pelabuhan menjadi lama, padahal setiap hari barang menumpuk di pelabuhan ada biaya sewa kontainer dan demurrage. Biaya tinggi ini akhirnya dibebankan ke harga produk.
Pemerintah perlu terus menyempurnakan sistem National Logistic Ecosystem (NLE) yang mengintegrasikan semua proses perizinan dalam satu platform digital. Simplifikasi prosedur dan pengurangan jumlah dokumen yang diperlukan.
Sosialisasi regulasi baru dan berikan periode yang cukup untuk adaptasi. Tegakkan hukum yang tegas terhadap pungli dan korupsi.
4. SDM yang Kurang Terampil
Meskipun sektor logistik tumbuh pesat, ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan tersertifikasi masih minim.
Banyak pekerja di lapangan, mulai dari staf gudang hingga pengemudi, yang bekerja hanya berdasarkan pengalaman tanpa pemahaman mendalam mengenai standar operasional logistik modern.
Selain itu, masalah kedisiplinan pengemudi dan kurangnya pengetahuan tentang safety driving sering menjadi penyebab kecelakaan atau keterlambatan.
Dampaknya adalah tingginya tingkat human error, selisih stok barang di gudang, hingga kesalahan rute pengiriman. Hal ini menurunkan produktivitas perusahaan dan mengurangi kepuasan pelanggan akibat layanan yang tidak profesional.
Solusinya, perusahaan logistik harus mengalokasikan anggaran untuk pelatihan berkala dan sertifikasi profesi bagi karyawannya. Institusi pendidikan juga perlu memperbanyak program vokasi khusus logistik untuk mencetak tenaga kerja siap pakai.
5. Risiko Kerusakan Barang
Kondisi geografis dan infrastruktur Indonesia yang menantang menimbulkan risiko tinggi kerusakan barang.
Guncangan akibat jalan rusak, penumpukan barang yang tidak sesuai prosedur (mishandling) saat bongkar muat, hingga faktor cuaca tropis yang lembap sering kali merusak kualitas produk sebelum sampai ke tangan konsumen.
Barang yang dikirim melalui jalur darat dan laut rentan terkena air, penyok, atau pecah. Masalah ini diperparah jika pengemasan yang digunakan hanya seadanya dan tidak disesuaikan dengan karakteristik barang maupun durasi pengiriman.
Selain kerugian finansial akibat harus mengganti produk rusak, perusahaan juga harus menanggung biaya logistik balik untuk retur barang. Lebih dari itu, reputasi penjual akan hancur karena pelanggan kecewa menerima barang cacat.
Solusinya adalah memperketat Standard Operating Procedure (SOP) dalam penanganan barang (bongkar-muat). Gunakan material kemasan yang lebih kokoh, tahan air, dan tahan banting untuk barang sensitif. Selain itu, wajib gunakan asuransi pengiriman untuk memitigasi risiko kerugian finansial.


Penulis merupakan SEO Content Writer yang aktif sejak 2023 dan memiliki pengalaman menulis di berbagai platform digital. Melalui kolaborasi bersama Mitralogistics, penulis berfokus menyajikan konten informatif yang ringkas, relevan, dan mudah dipahami seputar logistik serta pengiriman barang.
#BeratBukanLagiMasalah, bersama Mitralogistics yang #BebasKeManaAja.





