Tren Logistik 2026: 5 Hal yang Harus Diperhatikan!

Tren Logistik 2026: 5 Hal yang Harus Diperhatikan!

0
(0)

Tahun 2026 diprediksi menjadi periode penting bagi industri logistik. Di satu sisi, permintaan layanan logistik domestik terus tumbuh seiring proyeksi pertumbuhan PDB Indonesia yang diperkirakan mencapai 4,8% hingga 5,33%. 

Namun, di sisi lain, volatilitas biaya, terutama dari sektor energi dan tarif angkutan laut, masih menjadi tantangan utama.

Pemerintah Indonesia sendiri memiliki ambisi besar untuk menjadikan RI sebagai pusat logistik modern di kawasan Asia Pasifik. Presiden Prabowo Subianto menegaskan sistem logistik yang efisien adalah kunci struktur ekonomi nasional yang kuat. Lantas, bagaimana para pelaku bisnis harus bersiap?

Berikut rangkuman tren dan pembelajaran penting untuk menyongsong dinamika logistik tahun 2026.

5 Tren Logistik di 2026, Penting untuk Operasional Bisnis!

1. Lonjakan Volume dari Video Commerce

Laporan e-Conomy memproyeksikan Gross Merchandise Value (GMV) Indonesia mendekati US$100 miliar pada 2025, dan tren ini berlanjut ke 2026. 

Yang menarik, video commerce dan live selling menjadi pendorong utama perubahan pola belanja yang semakin impulsif.

Kombinasi social commerce dengan campaign rutin menciptakan arus pengiriman padat dan tidak terprediksi. Banyak brand kini mulai membuka dua hingga tiga warehouse satelit untuk mengakomodasi volume fulfillment yang terus naik. 

2. Regulasi Karbon Lintas-Benua Menambah Biaya

Regulasi karbon global mulai memberikan dampak pada biaya logistik Indonesia, meskipun rute pengiriman jauh dari Eropa. 

EU ETS yang telah mencakup pelayaran sejak 2024, FuelEU Maritime yang menurunkan intensitas emisi pada 2025, hingga CBAM yang berlaku penuh pada 2026 untuk impor tertentu, semuanya akan menaikkan biaya logistik ekspor-impor. .

Akibatnya, biaya logistik untuk produk intensif energi akan naik. Pelaku bisnis harus mulai menghitung jejak karbon agar tidak terkejut dengan biaya tambahan di jalur internasional.

3. Digitalisasi Dokumen dan Integrasi NLE

Penggunaan spreadsheet manual semakin ditinggalkan. Tren mengarah pada penggunaan electronic Bill of Lading (eBL) yang ditargetkan mencapai 100% secara global pada 2030. 

Di Indonesia, integrasi National Logistics Ecosystem (NLE) di pelabuhan dan bandara menjadi standar baru untuk memperlancar arus barang, mengurangi revisi dokumen, dan memangkas waktu tunggu.

4. Dinamika Biaya Energi dan Kebijakan Zero ODOL

Ketiga moda transportasi (laut, darat, dan udara) menghadapi tekanan biaya yang berbeda, tetapi sama-sama signifikan:

  • Laut: Tarif masih bergerak liar akibat pengalihan rute karena gangguan geopolitik. Banyak brand mulai menahan impor besar dan membaginya menjadi batch kecil untuk mengurangi risiko lead time yang tidak terprediksi.
  • Darat: Kebijakan energi dalam negeri, seperti mandatori B40 yang dieksekusi pada 2025 dan rencana B50 untuk 2026 menciptakan skenario biaya yang dinamis. Armada darat semakin sensitif terhadap harga minyak global.
  • Udara: Meski mahal, moda udara tetap menjadi penyelamat lead time terutama untuk fast-moving SKU. Cargo tonne-kilometers naik 5,8% pada 2025 dan tren ini berlanjut ke 2026, dengan pengiriman lintas negara untuk e-commerce menambah tekanan pada kapasitas.

5. Posisi Indonesia sebagai Hub Logistik Asia Pasifik 

Pemerintah Indonesia menempatkan penguatan sistem logistik nasional sebagai prioritas utama. Menteri Perhubungan menegaskan logistik merupakan denyut nadi ekonomi bangsa dengan harapan Indonesia dapat menjadi pusat logistik modern di kawasan Asia Pasifik.

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) yang menaungi lebih dari 4.000 perusahaan anggota di 33 provinsi menjadi kekuatan kolektif untuk mendorong transformasi ini.

Apa Saja yang Bisa Dipelajari dari Dinamika Logistik di 2026?

Menghadapi tahun 2026, logistik mencakup eksekusi yang rapi dan berbasis data. Berikut poin pembelajaran yang bisa diterapkan:

1. Memahami Kondisi Sekarang dan Perkiraan ke Depan

Indonesia saat ini ada di peringkat 61 dunia untuk kinerja logistik dengan skor 3,0. Angka ini bukan berarti buruk, tetapi ini titik awal yang realistis untuk kita berkembang lebih baik lagi.

Waktu pengiriman barang di dalam negeri sudah mulai stabil. Namun, masalah biaya yang masih tinggi dan kualitas layanan yang tidak merata tetap jadi PR kita.

Dari sisi ekonomi, OECD memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sekitar 4,8% di tahun 2026. Bank Indonesia lebih optimis, bisa sampai 5,33% kalau daya beli masyarakat tetap kuat.

Pertumbuhan ekonomi seperti ini bagus untuk bisnis logistik. Artinya, permintaan pengiriman barang akan terus ada dan stabil, tidak melonjak drastis, tetapi cukup untuk menjaga gudang dan kendaraan angkut tetap sibuk dan menguntungkan.

2. Cara Mengurangi Risiko untuk Setiap Bagian

Sesuai perannya, berikut cara mengurangi risiko dari dinamika logistik tahun 2026:

  • Untuk Pemilik Brand: Jangan pakai satu jasa pengiriman saja. Punya beberapa pilihan ekspedisi sangat penting karena pesanan bisa datang dari mana saja.
  • Untuk Tim Operasional dan Logistik: Gunakan kontrak dengan harga yang bisa naik-turun otomatis mengikuti kondisi pasar. Jadi, tidak perlu tawar-menawar lagi tiap bulan kalau harga berubah.
  • Untuk Manajer Keuangan: Lindungi keuangan perusahaan dari risiko nilai tukar mata uang. Juga mulai hitung biaya emisi karbon sejak awal sebelum impor barang supaya keuntungan tetap terjaga.

3. Buat Rencana 90 Hari yang Realistis

Rencana 90 hari pertama bisa dimulai dari:

  1. Audit emisi dan data SKU: Kumpulkan data dasar untuk mengambil keputusan awal dan memetakan risiko biaya serta SLA.
  2. Pilot eBL dan integrasi NLE: Pilih rute yang paling sering dipakai agar percepatan terasa langsung dalam operasional harian.
  3. Evaluasi kontrak dengan penyedia layanan: Gunakan aggregator logistik untuk memetakan pilihan lebih objektif tanpa bias vendor. Mulai dari SKU ringan sebagai uji coba.

4. Komitmen pada Zero ODOL

Pemerintah berkomitmen mendorong percepatan implementasi kebijakan Zero Over Dimension and Over Load (Zero ODOL) pada tahun 2027. Meskipun masih ada waktu, persiapan sejak 2026 akan membantu pelaku industri beradaptasi tanpa mengurangi efisiensi sistem logistik di lapangan.

Kesimpulan

Tahun 2026 adalah tahun pembuktian eksekusi yang rapi dan terukur. Industri yang gesit dalam mengelola biaya, SLA, dan data akan unggul dalam kompetisi. 

Transformasi logistik juga tidak bisa dilakukan sendirian. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi akan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan logistik regional yang modern, efisien, dan berdaya saing tinggi.

Tim yang sudah memulai persiapan sejak sekarang akan lebih mudah menghadapi perubahan mendadak. Keputusan kecil yang dibuat hari ini bisa menjadi pembeda besar di 2026.

 

Seberapa bermanfaat artikel ini?

Klik salah satu bintang untuk menilai.

Nilai rata-rata 0 / 5. Jumlah vote 0

Belum ada penilaian, jadi yang pertama menilai artikel ini.

Made with in Indonesia

Mitralogistics is registered Trademark of PT Naira Mitralogistik Indonesia

Copyright 2024 Mitralogistics