5+ Cara Mewujudkan Green Logistics dengan Efektif

5+ Cara Mewujudkan Green Logistics dengan Efektif

Pada tahun 2026, green logistics semakin menunjukkan relevansi dan manfaatnya, baik bagi bisnis maupun lingkungan. Data dari McKinsey pada tahun 2024 menyatakan bahwa perusahaan yang secara konsisten menerapkan green logistics dapat menurunkan biaya operasional hingga 15% dalam 3 tahun.

Melihat manfaatnya terhadap bisnis, beralih ke green logistics bisa jadi langkah strategis untuk operasional bisnis yang lebih efisien. Untuk itu, jika Anda merencanakan hal ini, Anda bisa pelajari dan ikuti tips-tips menerapkan green logistics yang sudah kami rangkum dalam artikel ini.

Tips Menerapkan Green Logistics yang Efisien

Transisi ke green logistics memang tidak mudah dan murah, namun Anda bisa mulai dengan melakukan 6 hal berikut ini.

1. Optimalisasi Rute & Konsolidasi Pengiriman

Salah satu cara paling kentara untuk mengurangi emisi gas karbon adalah dengan mengurangi jarak tempuh transportasi pengiriman. Anda bisa mulai mengadopsi teknologi Transportation Management System (TMS) untuk mengoptimalkan rute serta menghindari kemacetan.

Selain rute, Anda juga bisa memaksimalkan muatan dengan menggabungkan produk berbeda dalam satu muatan tanpa menyisakan ruang kosong sedikit pun. Dengan begitu, Anda dapat mengurangi repetisi pengiriman serta tentunya mengurangi jejak karbon dari perjalanan armada.

2. Gunakan Packing Ramah Lingkungan

Green logistics juga memiliki pendekatan dalam produksi, salah satunya dalam memilih kemasan produk atau packing pengiriman. Jika Anda masih menggunakan plastik sekali pakai atau stirofoam, Anda bisa mulai beralih ke material ramah lingkungan seperti kardus recycle atau kertas honeycomb. Selain eco-friendly, material tersebut juga cenderung lebih ringan, membantu mengurangi berat total muatan.

3. Transisi ke Kendaraan Ramah Lingkungan

Tips berikutnya sudah mulai memakan biaya lebih, yaitu beralih menggunakan armada berbahan bakar listrik (EV) atau dengan standar emisi yang lebih rendah, misalnya yang menggunakan Euro 4 atau lebih tinggi.

Meski terbilang mahal, investasi pada kendaraan ramah lingkungan dapat memberikan efisiensi biaya dan operasional ke depannya. Kendaraan semacam itu akan menggunakan bahan bakar hemat energi serta mengurangi ketergantungan pada rantai pasok bahan bakar global yang berpotensi menghambat operasional bisnis.

4. Penerapan Green Warehouse

tips menerapkan green logistics green warehouse
Contoh perusahaan yang menerapkan panel surya sebagai sumber energi listrik untuk gudang penyimpanan. (Sumber: Freepik)

Green warehouse jadi salah satu cakupan fokus green logistics oleh sebuah studi berjudul “Tracing the evolution of green logistics” di Jurnal Plos One (2023). Pada langkah ini, Anda bisa mulai menggunakan panel surya sebagai sumber tenaga listrik, lampu LED yang menyala otomatis berbasis sensor, hingga memaksimalkan sirkulasi udara alami agar tidak terlalu bergantung pada AC yang cenderung boros listrik.

5. Manajemen Rantai Pasok Sirkular

Langkah selanjutnya, Anda juga bisa memulai untuk menerapkan reverse logistics, yang juga diprediksi menjadi salah satu tren logistik pada 2026. Reverse logistics mengacu pada pengelolaan produk atau kemasan yang sudah sampai ke tangan konsumen untuk didaur ulang dan digunakan kembali. Selain ramah lingkungan, langkah ini juga membantu Anda dalam mengurangi biaya pengadaan bahan baku.

6. Edukasi Karyawan

Langkah terakhir ini terlihat sepele, namun tetap penting untuk dilakukan, yaitu menyampaikan sikap dan pendekatan perusahaan kepada setiap karyawan. Berikan arahan secara detail rencana transisi perusahaan ke green logistics dan manfaatnya untuk bisnis sehingga kinerja mereka juga sejalan dengan visi perusahaan.

Selama proses tersebut, sertakan pula pelatihan pada bagian-bagian krusial, misalnya cara mengemudi kendaraan EV atau respons yang harus diberikan ketika mengalami kendala rute di jalan. Pelatihan untuk staf gudang juga penting agar implementasi hemat energi terlaksana dengan baik.

Contoh Penerapan Green Logistics di Indonesia

Penerapan green logistics memang masih belum masif, namun Anda bisa mencontoh dari perusahaan-perusahaan yang sudah menerapkan pendekatan ramah lingkungan tersebut.

1. Penggunaan Kendaraan Listrik

Transisi ke kendaraan listrik menjadi aktivitas utama yang dilakukan banyak perusahaan di Indonesia untuk menerapkan green logistics. Salah satunya, Pos Indonesia saat bekerja sama dengan IKN untuk mengangkut ASN dan pegawai lainnya yang dipindahtugaskan ke ibu kota baru tersebut. Ada juga Petrokimia Gresik yang juga beralih ke penggunaan kendaraan listrik dalam transisi ke green port. 

2. Green Port

Green logistics juga bisa diterapkan di laut melalui konsep green port di mana transisinya fokus pada penyeimbangan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak alam. Petrokimia Gresik jadi salah satu perusahaan Indonesia yang berhasil menerapkan green port secara efisien dan dapat menekan biaya proses pemuatan sebesar Rp 37 miliar dan biaya konsumsi energi kendaraan pelabuhan senilai Rp 1,6 miliar per tahunnya.

3. Optimasi Rute berbasis Digital

Contoh ketiga ini sudah banyak dilakukan oleh perusahaan Indonesia akibat tren digitalisasi yang sudah ramai sejak 2024. Manfaat utama dari optimalisasi rute ini tentunya adalah mengurangi jejak karbon di jalan karena jarak tempuh yang lebih pendek serta penggunaan bahan bakar yang berkurang.

4. Reverse Logistics & Pengelolaan Limbah

tips menerapkan green logistics reverse logistics
Ilustrasi konsumen mengembalikan kemasan produk untuk didaur ulang. (Sumber: Freepik)

Penerapan terakhir ini masih minim diterapkan oleh perusahaan Indonesia karena alokasi biaya dan operasional yang justru bertambah bagi bisnis. Sejauh ini, penerapan reverse logistics baru dilakukan oleh perusahaan global seperti Apple, HP, dan Xerox.

Namun, langkah ini masih memungkinkan untuk dijalankan apabila Anda ingin memaksimalkan rantai pasok sirkular dengan mengurangi biaya pengadaan bahan baku serta meyakinkan pelanggan terhadap reputasi brand Anda.

Ada Pertimbangan untuk Menerapkan Green Logistics?

Semakin hari, banyak perusahaan di Indonesia yang sudah mulai mengadopsi green logistics. Bahkan, pemerintah juga turut serta menyatakan komitmennya terhadap zero emission pada 2060 mendatang.

Hal ini membuat adopsi pendekatan ramah lingkungan ini seakan jadi keharusan agar bisnis dapat bertahan di ekosistem bisnis masa depan. Transisi ke green logistics memanglah tidak mudah; prosesnya harus dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu operasional bisnis.

Selain melakukan peralihan secara pelan-pelan, Anda juga bisa bekerja sama dengan mitra logistik berpengalaman yang memiliki visi ramah lingkungan dan sudah menerapkan green logistics dalam operasionalnya.

Mitralogistics bisa jadi solusi pengiriman barang Anda yang sejalan dengan konsep green logistics. Mulai dari optimalisasi rute, digitalisasi pengiriman, serta sistem tracking yang memadai, Mitralogistics dapat melakukan pengiriman secara efisien tanpa meninggalkan jejak karbon yang berarti.

Konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim Mitralogistics di bawah ini dan mulai pengiriman yang ramah lingkungan sekarang juga!

 

Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Manfaat finansial green logistics tidak bisa dilihat sejak dini karena memang investasi untuk transisi ke sistem ini tidak murah. Namun, Anda bisa melihat manfaatnya secara perlahan dari penurunan biaya bahan bakar (hemat energi) dan penurunan biaya pengadaan material kemasan (reverse logistics).

Melihat arah arus utama logistik ke depannya, pendekatan green logistics seakan jadi standar baru, baik secara kepatuhan maupun untuk mendapatkan kepercayaan konsumen. Ketika bisnis Anda menolak untuk bertransisi ke green logistics, kemungkinan besar masalah yang terjadi adalah pembengkakan biaya pada pajak karbon hingga penurunan kepercayaan konsumen.

Anda bisa mulai mengukur penurunan emisi karbon yang dihasilkan dari seluruh operasional bisnis, mulai dari kegiatan pergudangan hingga distribusi last mile. Anda juga bisa mengukur rasio limbah produk yang dikeluarkan dan didaur ulang serta persentase penghematan energi yang dilakukan di gudang dan proses distribusi.