Logistik berkelanjutan kini menjadi kebutuhan bagi keberlangsungan perusahaan modern. Dengan menerapkan praktik ramah lingkungan, bisnis Anda dapat mengurangi dampak negatif terhadap alam.
Daftar Isi
Selain sebagai upaya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional jangka panjang. Langkah hijau ini juga mampu membangun reputasi positif yang menarik lebih banyak pelanggan setia.
Apa Itu Logistik Berkelanjutan?
Logistik berkelanjutan adalah penerapan praktik ramah lingkungan dalam seluruh rantai pasokan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Logistik berkelanjutan mencakup penggunaan transportasi hemat energi, pengelolaan gudang yang efisien, pengurangan limbah, dan optimasi rute untuk meminimalkan emisi karbon.
Konsep ini menyentuh setiap aspek operasi logistik, mulai dari pemilihan moda transportasi, penggunaan bahan bakar alternatif, desain packaging yang dapat didaur ulang, hingga penerapan teknologi canggih untuk efisiensi maksimal.
Pasar global untuk layanan logistik berkelanjutan mencapai USD 1.428,5 miliar pada 2024 dan diperkirakan tumbuh menjadi USD 2.808,3 miliar pada 2033 dengan CAGR 7,8%.
Logistik berkelanjutan juga berarti mengintegrasikan pertimbangan sosial dan ekonomi, bukan hanya lingkungan.
Hal ini mencakup praktik ketenagakerjaan yang adil, kontribusi terhadap ekonomi lokal, dan memastikan operasi yang menguntungkan dalam jangka panjang tanpa mengorbankan sumber daya alam.
Manfaat Menerapkan Logistik Berkelanjutan bagi Bisnis
Investasi dalam logistik berkelanjutan memberikan keuntungan yang besar, baik secara finansial maupun non-finansial:
1. Menghemat Biaya Operasional
Efisiensi bahan bakar dan energi secara langsung mengurangi biaya operasional. Kendaraan listrik atau hybrid memiliki biaya perawatan lebih rendah dibanding mesin konvensional.
Optimasi rute mengurangi jarak tempuh dan bahan bakar yang terbuang. Packaging yang lebih efisien menurunkan biaya material dan pengiriman.
2. Kepatuhan Regulasi
Pemerintah di seluruh dunia menerapkan regulasi lingkungan yang semakin ketat. Sektor transportasi menyumbang lebih dari sepertiga emisi CO2 dari sektor pengguna akhir.
Perusahaan yang proaktif mengadopsi praktik berkelanjutan akan lebih mudah memenuhi standar ini dan menghindari denda atau sanksi.
3. Efisiensi Rantai Pasokan
Optimasi yang dilakukan untuk tujuan keberlanjutan secara otomatis meningkatkan efisiensi keseluruhan operasi. Artinya, pengiriman lebih cepat, manajemen inventaris lebih baik, dan kepuasan pelanggan meningkat.
Seperti Apa Strategi Mengoptimalkan Logistik Berkelanjutan?
Menerapkan logistik berkelanjutan memerlukan strategi yang melibatkan berbagai aspek operasi:
1. Transisi ke Armada Ramah Lingkungan
Investasi dalam kendaraan listrik, hybrid, atau yang pakai bahan bakar alternatif, seperti biodiesel, LNG, atau hidrogen. Untuk jarak pendek dan pengiriman akhir, kendaraan listrik sangat ideal.
Pertimbangkan juga kerja sama dengan penyedia armada yang sudah memiliki kendaraan ramah lingkungan untuk mengurangi biaya investasi awal.
2. Efisiensi Muatan
Maksimalkan kapasitas muatan setiap pengiriman dengan penggabungan, hindari perjalanan kosong dengan manfaatkan peluang pengiriman balik.
Kemudian, gunakan strategi transportasi multi-moda yang menggabungkan berbagai jenis transportasi sesuai karakteristik dan jarak pengiriman, misalnya kereta api untuk jarak jauh dan truk untuk distribusi regional.
3. Efisiensi Gudang
Gunakan lampu LED dengan sensor gerak dan panel surya untuk menghemat listrik. Terapkan sistem otomasi gudang yang mengoptimalkan penggunaan ruang dan mengurangi pemborosan energi.
4. Pengemasan Ramah Lingkungan
Kurangi penggunaan material kemasan dengan desain efisien tanpa mengurangi perlindungan produk.
Gunakan bahan yang bisa didaur ulang atau biodegradable, serta hindari kemasan berlebihan yang memboroskan ruang pengiriman. Untuk pengiriman B2B, pertimbangkan sistem kemasan yang bisa dipakai ulang.
5. Penerapan Logistik Balik (Reverse Logistics)
Bangun sistem untuk mengelola pengembalian produk, daur ulang, atau perbaikan barang secara efisien. Selain mengurangi limbah, cara ini juga bisa menjadi sumber pendapatan tambahan dari produk yang di-refurbish atau material yang didaur ulang.
Tips-Tips Tambahan
Berikut tips praktis tambahan untuk mempercepat transisi menuju logistik berkelanjutan:
1. Terapkan Pelatihan Eco-Driving
Latih pengemudi armada Anda mengenai teknik berkendara yang efisien (eco-driving). Kebiasaan sederhana dapat menghemat konsumsi bahan bakar, seperti menjaga kecepatan stabil, menghindari pengereman mendadak, dan mematikan mesin saat berhenti.
2. Digitalisasi Administrasi
Kurangi penggunaan kertas dalam operasional sehari-hari. Beralihlah ke sistem digital untuk surat jalan, faktur, dan bukti pengiriman). Selain mengurangi limbah kertas, cara ini juga mempercepat aliran informasi.
3. Lakukan Pemeliharaan Armada secara Rutin
Kendaraan yang tidak terawat cenderung menghasilkan emisi gas buang lebih tinggi dan boros bahan bakar. Terapkan servis berkala untuk memastikan mesin bekerja pada performa optimal dan emisi tetap terkontrol.
4. Manfaatkan Analitik Data dan AI
Gunakan perangkat lunak berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi permintaan pasar. Hal ini membantu menghindari penumpukan stok berlebih di gudang (overstock) yang memboroskan energi pendingin dan ruang penyimpanan.
5. Kolaborasi dengan Mitra yang Sevisi
Pilihlah vendor, pemasok, atau mitra logistik pihak ketiga yang juga memiliki komitmen terhadap keberlanjutan. Sinergi ini akan menciptakan ekosistem rantai pasok hijau dari hulu ke hilir.
Tantangan & Risiko dalam Menerapkan Logistik Berkelanjutan
Logistik berkelanjutan memang kebutuhan mendesak di tengah krisis iklim global, tetapi implementasinya menghadapi berbagai hambatan. Berikut tantangan dan risiko utama yang dihadapi perusahaan:
1. Biaya Investasi Awal yang Tinggi
Transisi ke operasi logistik yang ramah lingkungan memerlukan modal besar untuk teknologi hijau, kendaraan listrik atau berbahan bakar alternatif, dan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya.
Banyak perusahaan, terutama UKM, kesulitan membenarkan investasi ini meskipun ada penghematan jangka panjang.
2. Keterbatasan Infrastruktur Pendukung
Di banyak negara berkembang, infrastruktur untuk logistik hijau masih belum merata. Kendala operasional yang sering terjadi antara lain kurangnya stasiun pengisian daya untuk truk listrik di rute jarak jauh atau minimnya fasilitas daur ulang material. Hal ini bisa menimbulkan risiko keterlambatan pengiriman jika tidak direncanakan dengan matang.
3. Sulitnya Pengukuran & Transparansi Data
Mengukur jejak karbon secara akurat di seluruh rantai pasokan sangat sulit. Perusahaan sering kesulitan dapat data yang valid dari vendor atau mitra pihak ketiga.
4. Kesenjangan Keahlian (Skill Gap)
Teknologi logistik baru memerlukan keterampilan baru. Sering kali, perusahaan menghadapi risiko kurangnya SDM yang mampu mengoperasikan software analitik atau merawat kendaraan berteknologi baru. Hal ini menuntut biaya dan waktu tambahan untuk pelatihan karyawan.
5. Risiko Ketidakpastian ROI (Return on Investment)
Keuntungan dari logistik berkelanjutan sering kali bersifat jangka panjang, sementara biaya yang dikeluarkan terjadi saat ini.
Bagi bisnis dengan margin tipis, ketidakpastian mengenai kapan investasi ini akan “balik modal” bisa menjadi risiko finansial yang memberatkan arus kas jangka pendek.


Penulis merupakan SEO Content Writer yang aktif sejak 2023 dan memiliki pengalaman menulis di berbagai platform digital. Melalui kolaborasi bersama Mitralogistics, penulis berfokus menyajikan konten informatif yang ringkas, relevan, dan mudah dipahami seputar logistik serta pengiriman barang.
#BeratBukanLagiMasalah, bersama Mitralogistics yang #BebasKeManaAja.





